Ibu Sri Winasih atau akrab dipanggil Bu Mening merupakan anggota KKWTH yang telah bergabung selama kurang lebih tiga tahun. Sejak usia muda, ia menyimpan cita-cita sederhana namun mulia: ingin menjadi peneliti dan menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang. Keinginan itu sempat membawanya mencoba masuk ke dunia biologi, meski pada akhirnya tidak diterima. Namun satu hal yang tidak pernah berubah, niatnya untuk dekat kepada Allah melalui jalan membantu sesama.Selepas menikah, Bu Mening mulai bersentuhan dengan dunia jamu melalui mertuanya yang berjualan jamu di pasar. Ia sempat diminta membantu menjual jamu godog (rebus), tetapi kala itu usaha tersebut belum membuahkan hasil. Jamu belum menjadi jalan hidupnya, hingga sebuah ujian besar datang dan mengubah seluruh arah hidupnya.
Saat anak pertamanya yang masih berusia empat tahun divonis menderita Talasemia Mayor, dunia Bu Mening seakan runtuh. Dokter menyampaikan bahwa anaknya harus menjalani transfusi darah seumur hidup. Vonis itu begitu memilukan, terlebih ketika disampaikan bahwa talasemia adalah penyakit keturunan yang belum memiliki obat. Pada masa 1990–1991, Bu Mening berada di titik terendah dalam hidupnya. Namun di balik air mata dan ketakutan itu, ia menumbuhkan keyakinan bahwa jika Allah memberi hidup, pasti ada jalan kesembuhan.
Dalam pencarian itulah Bu Mening bertemu dengan Mbah Ponco, seorang tukang urut yang dikenalkan oleh adik iparnya. Mbah Ponco telah belajar mengurut sejak usia 18 tahun dari orang tuanya, dan hingga usia hampir 97 tahun masih dikenal luas sebagai sosok yang gemar menolong siapa saja, terutama anak-anak. Ia mengurut dengan niat membantu, menerima upah seikhlasnya. Di balik kesederhanaannya, Mbah Ponco adalah sosok yang penuh kasih, memiliki seorang putri semata wayang dan sembilan cucu yang biaya sekolahnya turut ia bantu karena begitu sayang pada cucu-cucunya.
Ketika kondisi anak Bu Mening sangat kritis, HB turun drastis hingga angka 4 dan harus bolak-balik transfusi, Bu Mening tak kuasa menahan air mata. Dalam keluh kesahnya, ia berkata bahwa dokter menyebut anaknya tidak akan bertahan lama. Di saat itulah Mbah Ponco memberikan wejangan dalam bahasa Jawa yang membekas seumur hidup:
“Ojo pisan-pisan nger ndedawo sing Kuoso, ora ilok wong becik.”
(Jangan sekali-kali berprasangka buruk kepada Yang Maha Kuasa, itu tidak baik bagi orang yang berbuat baik.)
Ia melanjutkan dengan perumpamaan tentang kehidupan:
“Lelakon wong urip ora bedo. Wong nandur jagung lan padi tujuane padha: panen sing apik. Ning nyatane tukule bedo-bedo.”
(Perjalanan hidup manusia itu sama. Menanam jagung dan padi tujuannya sama, ingin hasil yang baik. Namun kenyataannya, tumbuhnya bisa berbeda-beda.)
Bagi Mbah Ponco, naluri hati seorang ibu harus kuat dan tegar. Seorang ibu harus memiliki keyakinan bahwa anaknya bisa sehat walafiat, panjang umur, karena memiliki Allah sebagai sandaran. Ia pun berkata, “Kene-kene, anak tak urut, tak cekoki.” Sebuah ajakan untuk berikhtiar, bukan menyerah pada vonis.
Sejak saat itu, Bu Mening mulai mendampingi pengobatan anaknya dengan jamu herbal, pijatan, serta pemenuhan gizi empat sehat lima sempurna. Perlahan namun pasti, kondisi sang anak membaik. Nafsu makan meningkat, tidur lebih nyenyak, perut tidak lagi kembung, dan kadar HB mampu bertahan lebih stabil. Seiring waktu, transfusi darah tidak lagi menjadi ketergantungan dalam hidup anaknya.
Pengalaman itu menjadi titik balik besar. Bu Mening mulai mempelajari jamu secara serius, membaca buku, memahami kandungan dan khasiat tanaman, serta meracik sendiri berbagai ramuan herbal. Ketika ia mulai berani tampil dan bercerita, anaknya telah tumbuh sehat dan hidup normal atas izin Allah. Keyakinan dan perjuangan panjang itu akhirnya Allah kabulkan.
Tahun 2002 menjadi momentum kebangkitan batin. Untuk menghibur diri dan mengobati luka yang pernah ada, Bu Mening mengikuti Lomba Kontes Kartini di Radio RRI Bogor. Tanpa disangka, ia meraih Juara 1. Prestasi tersebut menjadi penebus kepedihan masa lalu, sekaligus penguat langkah. Foto kemenangan itu pun ia tempelkan pada produk-produknya di bawah nama usaha CV Sumber Waras Sari Alam, sebagai simbol perjuangan dan harapan.
Usahanya terus berkembang. Tahun 2007, Bu Mening mendapatkan dukungan dan pendampingan dari BPPT–BTC Kementerian Ristek, termasuk kesempatan presentasi. Pada tahun 2012, ia kembali melakukan presentasi produk di PIRA Pusat, Gedung lantai 4. Semua itu memperkuat posisinya sebagai pelaku UMKM jamu yang tidak hanya bertahan, tetapi terus bertumbuh.
Produk jamu yang dihasilkan pun semakin beragam, antara lain temu putih, jahe merah, rempah jahe lemon, biang kunyit, temulawak, jahe, beras kencur, dan kunir asam. Semua diracik secara manual sebagai industri rumahan, dengan prinsip kebersihan, kejujuran, dan konsistensi kualitas.
Tantangan terbesar tetap datang dari keraguan pasar, terutama karena latar belakang talasemia yang sering dianggap mustahil membaik. Namun Bu Mening tidak pernah mengklaim berlebihan. Ia memilih membiarkan manfaat jamu dirasakan langsung oleh konsumen. Prinsipnya sederhana: jika kualitas dijaga, pelanggan akan kembali.
Selama lebih dari dua dekade, usaha jamu Bu Mening tidak hanya menopang ekonomi keluarga, tetapi juga membuka peluang bagi orang lain. Di masa awal, enam orang bekerja bersamanya dan bertahan hingga puluhan tahun. Dengan keikhlasan, usaha ini mengantarkan anak-anaknya tumbuh dan berpendidikan, meski sempat ada peringatan medis agar ia tidak hamil lagi.
Dalam menjalani usaha, nilai yang selalu ia pegang adalah kejujuran, tanggung jawab, dan sedekah. Saat usaha sepi, ia memilih tetap tenang dan memperbanyak berbagi. Baginya, rezeki bukan untuk ditahan, melainkan untuk dialirkan.
Kini, Bu Mening tidak pernah menyebut usahanya sebagai milik pribadi sepenuhnya. Baginya, usaha jamu ini adalah titipan Allah, jalan hidup untuk berbagi manfaat, membuka rezeki bagi orang lain, dan tetap rendah hati dalam kesuksesan. Saat ini, produk-produknya juga dipromosikan melalui berbagai kanal penjualan KKWTH.
Menutup kisahnya, Bu Mening mengingat pesan yang selalu ia pegang:
“Jamu bukan sekadar minuman, tapi jalan hidup untuk mewujudkan harapan, berbagi manfaat, dan berserah dengan ikhlas.”
Jamu Bu Mening dapat membantu menghilangkan rasa nyeri otot, meredakan pegal-pegal pada tubuh, menambah stamina tubuh hingga meredakan batuk dan flu. Dapatkan produknya di berbagai kanal penjualan KKWTH atau hubungi langsung Unit Usaha melalui WA : 085885262025
Penulis : DK
Editor : SL



Leave a Reply