Nama lengkapnya Dedi Tarsidi, tapi orang-orang di sekitar lebih akrab memanggilnya Pak Dedi. Pria asli Arjasari ini dikenal sebagai sosok yang sangat aktif. Beliau adalah tokoh dari Komunitas dampingan Yayasan Wadah Titian Harapan di Arjasari, Bandung dan anggota aktif Koperasi Konsumen Wadah Titian Harapan. Pagi buta jam 5, beliau sudah berangkat belanja sayur dan daging untuk warung makannya. Setelah itu, jam setengah 7, tokonya yang menjual tembakau dan air isi ulang sudah buka. Siangnya, Pak Dedi masih sempat menengok ke peternakan ayamnya yang dikelola bersama lima orang pekerja. “Dulu kandangnya bisa sampai 25 ribu ekor, tapi waktu pandemi sempat turun jadi 5 ribu,” ujarnya dalam sesi wawancara. “Sekarang pelan-pelan bangkit lagi.” Sore harinya, sekitar jam 3, giliran warung makannya beroperasi hingga malam. Walau terdengar melelahkan, semangat Pak Dedi justru terlihat makin menyala.
Awal Mula Warung Makan dan Semangat Belajar Mandiri
Warung makan Pak Dedi berdiri pada Oktober 2024. Awalnya, beliau ingin memberdayakan anak-anak muda di sekitar, terutama para tutor yang sering ikut kegiatan komunitas. Dulu, mereka sempat membuka booth makanan ringan seperti takoyaki, risol mayo, hingga mie pedas. Sayangnya, karena satu per satu tutor sibuk dengan pendidikannya dan ada juga yang menikah, usaha itu sempat terhenti. Tak menyerah, Pak Dedi mencoba lagi, melalui pengajuan kredit untuk usaha dari Koperasi Wadah, Pak Dedi berusaha mewujudkan ide-ide cemerlangnya. Kali ini ia belajar otodidak lewat YouTube untuk membuat soto, sop iga, dan tongseng. Ia bahkan rajin mencicipi masakan warung lain untuk memperdalam racikan bumbu. “Awalnya menu jajanan dan makanan berat dijalankan bersamaan, tapi repot juga. Akhirnya fokus ke menu makanan berat,” ujarnya. Sekarang, tiga menu andalan warungnya yang menjadi favorit pelanggan adalah sate, sop iga, soto dan tongseng.
Kekuatan Komunitas Sayur Lodeh Arjasari
Selain berjualan, Pak Dedi juga aktif di Komunitas Sayur Lodeh Arjasari sejak tahun 2019. Komunitas ini punya misi mulia: membantu petani agar bisa mandiri tanpa tergantung tengkulak. “Dulu, bersama Yayasan Wadah kami pernah bagi 2000 polybag gratis untuk warga, temanya pemanfaatan pekarangan rumah,” kenangnya. “Ada yang tumbuh subur, ada juga yang cuma tumbuh sebentar — tapi semangatnya luar biasa.” Yang paling berkesan bagi Pak Dedi adalah ketika para petani mulai berani menentukan harga sendiri dan bekerja sama untuk menjaga kualitas. “Dulu kami tergantung tengkulak, sekarang kami bisa tentukan harga yang adil untuk petani.” Nilai utama yang dijaga komunitas ini adalah kejujuran dan kebersamaan. Semua biaya dan harga pasar dibuka secara transparan. Kalau ada anggota yang kesulitan beli bibit, komunitas akan saling bantu.
Belajar dari Tantangan dan Menanam Harapan
Tantangan terbesar bagi komunitas ini adalah cuaca. Karena sebagian besar lahan hanya mengandalkan air hujan, mereka harus pintar-pintar mengatur musim tanam. Saat musim hujan, mereka mempersiapkan bibit cadangan untuk ditanam di musim kemarau. Pak Dedi sendiri kini menjadi penasihat komunitas, membantu anggota lain melihat pertanian sebagai bisnis yang bernilai, bukan sekadar pekerjaan untuk bertahan hidup. Harapannya sederhana: ada kepastian harga dan dukungan dari pemerintah agar hasil tani organik seperti tomat kecil yang alami tetap dihargai, bukan malah kalah dengan sayur-sayur besar yang penuh pestisida.
Cita-Cita Besar bersama Warung Makan
Kini, warung makan Pak Dedi mulai dikenal masyarakat sekitar. Meski belum bergabung dengan platform online seperti GrabFood atau GoFood, ia ingin terus berbenah. “Kalau tempatnya sudah rapi dan ada modal sedikit, saya mau ganti meja, tambah dekorasi biar menarik untuk mengundang orang datang lebih banyak lagi,” katanya. Ia juga punya impian untuk mengembangkan menu baru seperti steak ayam, sate taichan, dan rice bowl, terutama menjelang puasa nanti. Lebih dari itu, ia ingin warungnya menjadi tempat belajar bersama. “Nanti kalau warung ini berkembang, saya mau ajak teman-teman juga buka cabang di tempat lain. Biar jadi wadah belajar dan kerja bareng,” ujarnya penuh semangat.
Refleksi dan Nilai Hidup
Bagi Pak Dedi, perjalanan ini bukan hanya soal uang atau usaha, tapi soal karakter.
“Dari komunitas dan usaha ini, saya belajar sabar, melayani orang, dan menanggung konsekuensi,” katanya. “Yang paling penting, tetap berpegang pada Tuhan.” Ia merasa bangga bisa melawan rasa minder dan kemalasan yang dulu sering muncul. Kini, keberanian melayani orang lewat usaha kuliner menjadi sumber kebahagiaan tersendiri. Pesannya untuk anggota komunitas lain sangat sederhana tapi bermakna: “Angka bisa diubah oleh siapa pun, tapi nilai tidak. Nilai itu yang jadi fondasi kita.”
Menanam Nilai, Menuai Kemandirian
Bagi Pak Dedi, perjalanan ini seperti biji yang tumbuh dan menghasilkan biji lagi.
Komunitas Sayur Lodeh dan warung makannya mungkin masih sederhana, tapi semangat gotong royong dan nilai-nilai dari Yayasan Wadah yang ditanam akan terus tumbuh, menyebar, dan memberi manfaat bagi banyak orang. “Semoga komunitas ini tetap kompak, jujur, dan saling tolong menolong. Dan semoga warung saya bisa tumbuh lebih besar, jadi tempat belajar bersama untuk teman-teman yang mau maju.”, ungkapan harapan Pak Dedi.





Leave a Reply