Dari Gelap menuju Kemandirian: Perjalanan Om Botu Merintis Usaha Perkebunan

Menjadi Pelita Di Pomat, Kabupaten Sikka, malam berarti gelap dan terbatas. Listrik PLN belum menjangkau wilayah ini. Warga hanya mengandalkan pelita dengan cahaya redup dan berasap. Anak-anak belajar dalam penerangan minim, setelah berjalan kaki jauh dari sekolah dan tubuh sudah lelah. Banyak yang kesulitan membaca atau menyelesaikan tugas karena mata perih dan cahaya tidak memadai…

By.

min read

om botu

Menjadi Pelita

Di Pomat, Kabupaten Sikka, malam berarti gelap dan terbatas. Listrik PLN belum menjangkau wilayah ini. Warga hanya mengandalkan pelita dengan cahaya redup dan berasap. Anak-anak belajar dalam penerangan minim, setelah berjalan kaki jauh dari sekolah dan tubuh sudah lelah. Banyak yang kesulitan membaca atau menyelesaikan tugas karena mata perih dan cahaya tidak memadai

Situasi inilah yang terjadi sekitar tahun 2014-2015, ketika Yayasan Wadah Titian Harapan datang memperkenalkan progam LTS (Listrik Tenaga Surya). Program ini menjadi harapan baru bagi warga. Dari kebutuhan akan cahaya itulah Gaudesius Botu yang akrab disapa Om Botu mulai terlibat. Pertemuan dengan Yayasan Wadah menjadi awal perjalanan pengabdiannya  dari penerima manfaat hingga kemudian menjadi anggota KKWTH dan kader yang turut membawa terang bagi masyarakatnya.

Tahun 2015, bantuan 54 unit LTS hadir untuk komunitas Pomat. Kebahagiaan warga tak terlukiskan. Bahkan seorang nenek berkata, “Sebelum saya meninggal, saya harus menikmati lampu itu.” Hingga hari ini, nenek tersebut masih menggunakan LTS. Warga kemudian membentuk komite, membangun bengkel sederhana, dan menerapkan iuran bersama untuk menjaga keberlanjutan program. Namun setelah sekitar 2,5 tahun, masalah muncul. Lampu hanya menyala 2–3 jam lalu mati total.Di sinilah perjalanan Om Botu sebagai pembelajar dimulai. Awalnya ia tidak memahami sistem LTS karena bekerja serabutan (pertanian dan peternakan). Namun dorongan untuk membantu keluarga dan tetangga membuatnya mencoba. Saat itu, ia berkonsultasi dengan teknisi Almh. Mama Agnes, berdiskusi dengan rekan yang memahami kelistrikan, bahkan membongkar komponen dan mempraktikkan perbaikan di rumahnya sendiri. Hasilnya? Lampu kembali menyala hingga pagi. Kemampuannya dilihat sebagai potensi. Ia kemudian dipanggil ke RWD (Rumah Wadah Daerah) dan dilatih oleh Bibi Rasmi selama satu bulan. Sejak itu, Om Botu mulai mengembangkan bakat teknisnya bersama komunitas Yayasan Wadah.

 

Ujian Berat: ASF dan Kegagalan Ternak

Dengan dukungan dana Rp15 juta dari Yayasan Wadah, Om Botu memulai usaha ternak babi. Ia membeli dua indukan siap beranak. Hasil awal cukup menjanjikan, anak babi lahir, sebagian dijual seharga Rp1 juta per ekor. Ada rencana memperluas usaha. Namun virus ASF (African Swine Fever) melanda Flores. Gejalanya datang tiba-tiba, babi berhenti makan, badan panas, muncul bintik merah, lalu mati dalam hitungan hari. Satu kabupaten terdampak. Pasar babi bahkan sempat ditutup. Tak berhenti di situ, usaha ayam kampung pun terdampak wabah flu burung. Lagi-lagi kegagalan. Namun Om Botu tetap gigih dan tidak mau menyerah.

 

Menangkap Peluang Dapur Gizi

Desember 2025, melalui Paroki PSE (Pemberdayaan Sosial Ekonomi), seluruh umat di Pomat, menerima dukungan dana kemandirian umat sebesar Rp500.000. Sebagai pengurus KBG (Komunitas Basis Gereja), Om Botu terbiasa berdiskusi dan mencari solusi bersama. Namun kerena keterbatasan uang   untuk beli bibit yang akan dibagikan kepada 45 KK akhirnya Yayasan Wadah memberi bantuan penambahan pembelian bibit dan plastik polybag, sehingga masing-masing KK dapat 1 bungkus pepaya calivornia dan juga plastik polybag

Ia kemudian berkonsultasi dengan Bang Adi salah satu pendamping dari Yayasan Wadah. Dari sinilah muncul ide baru: pertanian hortikultura untuk mendukung program MBG (Makan Bergizi Gratis). Di Sikka terdapat beberapa dapur MBG yang kesulitan mendapatkan pasokan buah dan sayur lokal. Sementara Om Botu memiliki lahan kurang dari ¼ hektar. Om Botu juga mengikuti pelatihan vokasi pertanian pada Januari 2026, termasuk tutorial penggunaan pupuk organik.

 

Best Practice Budidaya Pepaya

Om Botu memilih Pepaya California dengan target awal 100–150 pohon. Ia menerima 1 bungkus bibit (60 biji) dari Yayasan Wadah  dan membeli tambahan 4 bungkus secara mandiri. Awalnya hasil semai kurang maksimal. Petunjuk di kemasan tidak sesuai dengan pelatihan. Ia melakukan eksperimen:

  • Mengganti jenis kain fermentasi menjadi kain kaos
  • Memperpanjang fermentasi dari 7 hari menjadi 9 hari
  • Mengatur teknik perendaman dengan jumlah air yang lebih banyak

Hasilnya meningkat hingga 90% keberhasilan tumbuh. Selama satu bulan masa pembibitan di polybag, Om Botu melakukan kontrol ketat:

  • Pagi dan sore memeriksa daun dan media tanah
  • Menyiram secukupnya saat kering
  • Menutup dengan seng saat hujan agar tidak rusak karena kelembaban berlebih

Ia juga membagikan praktik baik ini kepada KK lain yang mengalami kendala serupa.

 

Strategi Diversifikasi: Semangka sebagai Tanaman Sela

Agar lahan lebih produktif, Om Botu berencana menanam semangka di sela pepaya. Ia terinspirasi dari petani sekitar yang mengatur lahan dengan jarak tanam 50 x 50 cm. Menurutnya, sebelum sulur semangka menjalar, lahan masih bisa dimanfaatkan optimal. Setelah menjalar, posisi tanaman dapat diatur. Ia aktif bertanya dan belajar dari petani sekitar untuk meminimalkan kesalahan. Untuk menghadapi musim kemarau, ia menyiapkan pembelian tangki air dari tabungan pribadi.

 

Komitmen Investasi & Perencanaan Sederhana

Om Botu mencatat seluruh kebutuhan perlengkapan secara sederhana, bibit, polybag, waring pagar, hingga rencana tangki air. Baginya, investasi pribadi adalah bentuk keseriusan. “Berusaha bukan berarti kegagalan mematahkan semangat. Kegagalan itu pijakan untuk belajar.”

 

Dampak Sosial & Ekonomi

Harga pepaya di pasaran sekitar Rp10.000/kg. Dengan adanya beberapa dapur MBG, peluang pasar sangat terbuka. Menurut Om Botu, keunggulan petani lokal adalah:

  • Uang tidak keluar daerah
  • Rantai ekonomi tetap berputar di masyarakat
  • Mendukung program pemerintah
  • Produksi bisa disesuaikan kebutuhan aktual

Ia berharap pekarangan rumah menjadi lebih produktif dan menjadi contoh bagi masyarakat Pomat.

 

Makna Relasi dan Peran Koperasi

Dari perjalanan bersama Yayasan Wadah, Om Botu belajar pentingnya relasi dan komunikasi. Kini ia dipercaya menjadi Ketua PSE STASI yang membawahi 8 lingkungan dengan sekitar 750 KK. Itu adalah dampak nyata pendampingan yang ia rasakan. Om Botu menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya juga kepada KKWTH yang telah menunjukkan kepedulian dan dukungan nyata terhadap usaha kecil yang sedang ia rintis, yaitu budidaya tanaman pepaya California. Meskipun usaha tersebut masih dalam tahap awal, dukungan dari komunitas menjadi penguat langkahnya untuk terus berkembang. Melalui sesi Zoom bersama Mang Dede, seorang praktisi dan ahli pembibitan hortikultura yang berpengalaman, Om Botu memperoleh pembelajaran yang sangat berharga. Dalam sesi tersebut, ia mendapatkan penjelasan langsung mengenai teknik penyemaian bibit yang benar, cara perawatan tanaman sejak usia dini, metode pemupukan sesuai dengan kebutuhan dan usia tanaman, hingga langkah-langkah mengatasi hama dan penyakit yang sering menyerang tanaman muda. Mang Dede menjelaskan kepada Om Botu bahwa proses pembibitan pepaya California bukanlah hal yang mudah. Diperlukan ketelatenan, kesabaran, serta pemahaman teknis yang tepat agar bibit dapat tumbuh kuat dan berkualitas. Ilmu yang diperoleh tidak hanya menambah wawasan Om Botu, tetapi juga menumbuhkan semangat baru dalam mengembangkan usahanya. Ia merasa lebih percaya diri karena mendapatkan arahan langsung dari ahlinya. Lebih dari itu, ia merasakan bahwa dalam perjalanan membangun usaha, ia tidak berjalan sendiri—ada komunitas yang mendukung dan mentor yang membimbing setiap langkah pertumbuhannya.

Selain itu, Koperasi Wadah Titian Harapan juga memberi kebanggaan tersendiri. Produk tenunan yang dulu hanya dijual di Pasar Pomat, kini dipajang dan dipromosikan lebih luas dalam bentuk tas cantik. Hal ini menyemangati Mama Hani, sang istri untuk terus menenun dan meningkatkan kualitas produksi.

 

Pesan untuk Sesama Pejuang

Om Botu adalah tipe pribadi yang tertantang mencari akar masalah.

Pesannya sederhana tetapi penuh dukungan:“Terus belajar dari kegagalan. Jangan putus asa.” Dari pelita redup hingga cahaya LTS. Dari wabah ternak hingga kebun pepaya. Perjalanan Om Botu adalah bukti bahwa pendampingan, keberanian mencoba, dan komitmen pribadi mampu mengubah krisis menjadi peluang.

 

Penulis : DK

Editor : SL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *