Segenggam Mimpi dari Rangkaian Benang : Bu Flora dan Generasi Muda Penjaga Tenun NTT

Flora Bere Leki salah satu anggota KKWTH (Koperasi Konsumen Wadah Titian Harapan)  yang bergabung sejak tahun 2021. Wanita yang akrab disapa Bu Flora ini merupakan ASN (Aparatur Sipil Negara) di Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Belu. Ia juga membentuk komunitas bakuBANTU, komunitas yang terdiri dari ibu-ibu dan remaja penyedia jasa pembersih rumah dan…

By.

min read

1

Flora Bere Leki salah satu anggota KKWTH (Koperasi Konsumen Wadah Titian Harapan)  yang bergabung sejak tahun 2021. Wanita yang akrab disapa Bu Flora ini merupakan ASN (Aparatur Sipil Negara) di Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Belu. Ia juga membentuk komunitas bakuBANTU, komunitas yang terdiri dari ibu-ibu dan remaja penyedia jasa pembersih rumah dan kantor. Di sebuah ruang kecil miliknya di Belu, Nusa Tenggara Timur, terdengar suara mesin jahit kulit yang khas. Di sana, selembar kain tenun tradisional berpadu dengan potongan kulit perlahan menjelma menjadi sebuah tas cantik. Ia memaknai setiap jahitan tidak hanya sekadar teknik, tapi juga sebuah harapan agar tenun warisan budaya leluhur bisa terus hidup di tengah zaman modern. “Awalnya sederhana,” kata Bu Flora. “Saya hanya ingin menghadirkan souvenir khas daerah sendiri. Kalau ada tamu datang atau ketemu wisatawan, rasanya kok sulit mencari cinderamata selain lembaran tenun.” Dari keresahan itu, lahirlah ide untuk mendirikan BAG-US (Bag and Us), usaha kreatif yang kini menjadi identitas baru bagi karyanya.

 

Menyulap Tenun Tradisional menjadi Tas Modern

Tenun Belu selalu punya tempat istimewa di hati masyarakat. Ia bukan sekadar kain, tapi simbol identitas, sejarah, sekaligus kebanggaan masyarakat. Bagi Bu Flora, menjaga tenun berarti menjaga akar budaya, lebih dari itu ia juga ingin memberinya napas baru melalui inovasi. Lewat BAG-US, ia mencoba mengolah tenun pewarna alam menjadi tas dengan desain modern. Tenun dipadukan dengan kulit, dibuat lebih praktis, lebih fungsional, tanpa kehilangan sentuhan tradisional. “Target saya remaja dan ibu-ibu muda. Mereka harus merasa bangga pakai tas tenun, bukan hanya di acara adat, tapi juga sehari-hari,” ujarnya. Industri berbasis tenun mulai merambah hingga ke pulau-pulau besar di luar NTT dan mendapat sambutan positif dari konsumen.

 

Usaha dari Inisiatif Awal yang Impulsif

Siapa sangka usaha ini lahir tanpa rencana panjang. Suatu hari Bu Flora bertemu dengan seorang lulusan SMK jurusan desain busana. Ia spontan bertanya, “Mau coba menjahit tas?” dan dijawab dengan anggukan. Dari situ, ia langsung memesan mesin jahit kulit dari Jawa, mesin ini menjadi modal pertama yang dimiliki BAG-US. Tidak ada kursus, tidak ada mentor. Anak-anak belajar otodidak lewat YouTube dan Pinterest, di zaman modern ini teknologi sangat bermanfaat bagi mereka yang punya ide kreatif dan berniat menggunakannya untuk hal-hal positif seperti pengembangan diri, bakat maupun keterampilan. Dari hanya satu penjahit, kini Bu Flora punya dua remaja Gen Z yang ikut membantunya. Upah mereka memang belum besar, tetapi cukup untuk membuat mereka merasa dihargai. “Bagi saya, yang penting mereka punya ruang belajar, punya kesempatan untuk berkembang, dan percaya diri,” kata Bu Flora.

 

Tantangan Industri Ini : Menyatukan Tenun dan Kulit

Proses awal pembuatan tenun dilakukan oleh para penenun tradisional berpengalaman. Ibu Flora dan tim sendiri tidak terlibat dalam proses menenun namun ia membangun kerjasama dengan penenun dan penjual kain tenun tradisional, perannya adalah memastikan kualitas tenun memenuhi standar mulai dari bahan, motif, warna hingga kepadatan kain sebelum tenun diproses menjadi berbagai bentuk tas. Dalam perjalanan, tantangan terbesar justru ada pada proses teknis. Menggabungkan tenun dengan kulit yang tidak mudah, proses ini membutuhkan keterampilan dan kesabaran tinggi agar hasilnya kuat sekaligus memiliki nilai estetika. Menyadari keterbatasan itu, di awal tahun 2025 Bu Flora memberangkatkan salah satu karyawannya ke Bandung untuk mengikuti kursus khusus pembuatan tas tenun dan kulit. “Kalau ingin bertahan, kualitas harus terus ditingkatkan. Itu prinsip saya,” tegasnya.

 

Pameran, Instagram, dan Cerita dari Pembeli

Dari ruang sederhana di rumahnya, produk BAG-US perlahan merambah ke panggung yang lebih luas. Berkat dukungan Dekranasda Belu serta Koperasi Wadah, tas-tas tenun itu pernah tampil di Ina Craft, Jakarta Fashion Week 2023 dan Celebration of Life Yayasan Wadah Titian Harapan 2023. Bagi Bu Flora pameran lebih dari sekadar soal penjualan. “Kadang memang tidak langsung menaikkan pendapatan, tapi dampaknya besar untuk promosi. Orang jadi tahu, oh ada produk dari Belu seperti ini.” Selain pameran, Instagram menjadi sahabat dekat BAG-US. Dari hanya seratus pengikut, kini sudah lebih dari 1.500 orang yang mengikuti perjalanan Bu Flora dan timnya. Ia mengelola akun itu sendiri, membagikan cerita di balik setiap tas, dan selalu menantikan komentar dari pembeli. “Setiap review  itu berharga sekali. Rasanya seperti dapat energi baru untuk meningkatkan kualitas tas,” ucapnya.

 

Produk Favorit dan Pasar yang Perlahan Melebar

Di antara berbagai model, bucket bag menjadi produk paling diminati. Ukurannya pas, praktis, dan cocok untuk berbagai aktivitas. Konsumen utamanya adalah remaja perempuan dan ibu-ibu muda. Ada juga pesanan dari kantor untuk souvenir, meski jumlahnya belum besar. Uniknya, meski BAG-US belum menembus pasar ekspor, beberapa tasnya sudah “jalan-jalan” ke luar negeri. Ada pembeli lokal yang membeli untuk hadiah, lalu dibawa ke mancanegara. Sehingga tas karya Bu Flora sudah dipamerkan ke luar negeri, walau belum secara resmi. Menurut penelitian Yuliana & Kristiana, 2020; Sari, 2021; Setiawan, 2022, ketertarikan wisatawan mancanegara terhadap kerajinan tas tenun Indonesia tidak hanya didorong oleh nilai estetika, tetapi juga oleh aspek psikologis yang mencakup pengalaman budaya, keaslian, dan makna simbolik yang melekat pada produk. Wisatawan merasa bahwa tas tenun merepresentasikan identitas lokal serta memberikan kepuasan emosional karena memiliki sesuatu yang unik, autentik, dan bernilai tradisi.

 

Mimpi: Artshop Kecil yang Hidup

Bu Flora bercita-cita BAG-US tidak hanya menjadi usaha, melainkan wadah pemberdayaan. Tahun ini saja, untuk kedua kalinya ia menerima siswa SMK dalam program PKL (Praktik Kerja Lapangan). Bu Flora punya mimpi sederhana membangun artshop kecil. Sebuah ruang tempat orang bisa melihat langsung hasil karya anak-anak, membeli tas, sekaligus belajar tentang industri kreatif berbasis tenun. “Saya ingin artshop ini jadi pusat apresiasi, ruang belajar, dan tempat berkumpulnya generasi muda yang mau berkarya,” katanya penuh harap. Harapan juga berasal dari kenyataan mengenai sulitnya mencari kerja bidang kreatif di NTT, data BPS (Badan Pusat Statistik) dan Laporan Kemenparekraf 2023 menunjukkan pertumbuhan dan pemberdayaan lokal NTT melalui ekonomi kreatif, terutama subsektor kriya, tetapi kontribusinya terhadap ekonomi regional masih relatif kecil. Ibu Flora berharap melalui usahanya, ia dapat membantu anak-anak didikannya dapat mandiri secara finansial.

 

Strategi Bertahan: Menikmati Proses dan Tumbuh dengan Percaya Diri

Memasuki tahun ke-4, Bu Flora mengakui usahanya masih jauh dari target. Namun ia memilih berdamai dengan keadaan. “Saya belajar untuk menikmati setiap proses. Dari followers Instagram @bagus_yourbag yang tadinya kurang dari 100, sekarang sudah 1500 lebih. Tidak besar, tapi saya bersyukur karena itu merupakan bagian dari pertumbuhan.” Di balik setiap produk BAG-US, ada cerita anak-anak muda yang semakin percaya diri. Profesi menjahit tas memang belum umum di NTT, tapi kini mereka punya kebanggaan tersendiri. Bahkan, beberapa kali mereka diundang sebagai narasumber, sehingga kemampuan public speaking mereka juga ikut terasah. “Bagi saya, ini pencapaian besar. Melalui keterampilan menjahit, mereka berani tampil dan berbagi pengalaman,” kata Bu Flora. Ia mengakui bahwa dirinya bukanlah seorang fashion designer, biasanya referensi desain terbaru diperoleh dari internet lalu dimodifikasi dengan pemikirannya, melihat kombinasi referensi model serta buah pemikirannya melahirkan tas tenun yang cantik adalah momen yang selalu dinantikan, sehingga proses ini merupakan yang paling disukai oleh Ibu Flora. Mengingat kesibukannya dengan pekerjaan utama diluar usaha tas, Bu Flora menyempatkan waktu sepulang kantor untuk menemani anak-anak penjahit minimal satu jam. “Rencana kedepannya saya ingin terus meningkatkan kapasitas anak-anak didik, khususnya dalam keterampilan menjahit agar kualitas produk mereka semakin baik dan beragam, saya juga ingin mereka belajar hal-hal lain seperti manajemen usaha, pemasaran dan pengembangan produk. Selain agar mereka terampil secara teknis, ilmu itu bisa menjadi bekal untuk mereka berdiri di atas kaki sendiri”, ucapnya gigih.

 

Pesan untuk Komunitas Maupun Anggota KKWTH yang Punya Usaha

Bagi anggota Koperasi Konsumen Wadah Titian Harapan (KKWTH), Bu Flora punya pesan singkat tapi penuh makna: “Jangan menyerah. Kalian hebat!”. Dan khusus untuk Ibu Anie serta pendiri KKWTH, ia menambahkan dengan penuh rasa syukur: “Saya masih ingat waktu ikut rapat umum anggota secara online beberapa tahun lalu. Saat itu situasi kami sulit, Ibu Anie berdiri di depan, bagaikan api penyemangat bagi anggota. Semoga semangat itu juga mengilhami kami dalam menjalankan usaha dengan semangat komunitas.” BAG-US adalah bukti bahwa sebuah mimpi bisa lahir dari keresahan kecil, lalu tumbuh menjadi suatu gerakan yang berdampak. Dari sebuah mesin jahit di ruang rumah, kini Bu Flora bersama anak-anak asuhnya bukan hanya menghasilkan tas, tetapi juga menenun mimpi, menjahit harapan untuk menjaga budaya tetap hidup.

Yuk kenali kegiatan Bu Flora dan produk-produk andalannya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *