Perjalanan Hasan Azhary dimulai sejak tahun 1996, saat ia mulai melayani komunitas di sekitarnya. Nama Azhary atau teman-teman biasa memanggilnya Bang Azhary tak bisa lepas dari awal berdirinya Yayasan Wadah Titian Harapan. Ibu Anie Hashim Djojohadikusumo sebagai pendiri Yayasan Wadah telah memberikan banyak nilai-nilai kehidupan yang berharga untuk Bang Azhary, selain mengubah pola pikir, Bang Azhary jadi semakin mengetahui tujuannya dalam pelayanan di komunitas serta memperoleh pengalaman hingga tingkat Internasional (konferensi di ECOSOC PBB). Sehingga ia tak sekadar aktif di komunitas, tapi termasuk salah satu pionir yang ikut menanam benih pertama dalam pelayanan Yayasan Wadah. Fokus awal pelayanan Bang Azhary adalah dunia pendidikan dan pengembangan masyarakat. Namun seiring waktu, perjalanannya melebar ke bidang kesehatan hingga pemberdayaan ekonomi sesuai dengan dinamika perkembangan program Yayasan Wadah. Semangat dan keteladanan Bang Azhary pun semakin bertumbuh dan menginspirasi. Tahun 2007 jadi titik balik besar bagi Bang Azhary. Saat situasi hidup menantangnya untuk mengambil keputusan besar memulai usaha sendiri. Ia tak punya modal besar atau rencana bisnis rumit. Ia memulainya dari tempat yang ia kenal, yaitu lokasi pelayanan pendidikan komunitasnya. Dari tempat itu, muncul ide, kebutuhan, dan keberanian. Bagi Bang Azhary, usaha bukan cuma soal bisnis, tapi cara untuk bertahan dengan harga diri dan memberi makna lebih dalam dari sekadar cari untung.
Keluarga Jadi Inspirasi, Pesan Jadi Kompas
Ketika ditanya siapa inspirasinya, Bang Azhary langsung menyebut kedua orang tuanya yang merupakan tokoh agama sekaligus pengusaha. Nilai-nilai dari mereka tertanam kuat dalam hidupnya. Ia juga masih ingat betul pesan Bu Anie Hashim Djojohadikusumo, pendiri Yayasan Wadah: “Azhary bisa jadi pengusaha seperti Pak Hashim.” Bagi Bang Azhary, kalimat itu bukan hanya semangat, tapi doa dan arah hidup.
Melihat Peluang, Menyentuh Kehidupan
Di Penjaringan, Jakarta Utara, Bang Azhary melihat peluang dari hasil laut yang melimpah tapi belum diolah maksimal. Ia pun memulai usaha pengolahan seafood. Kini, ia mempekerjakan 7 orang di Penjaringan dan 40 orang di pabrik Bandung. Hal yang paling membahagiakan bukanlah angka tersebut, melainkan ketika ia melihat karyawannya bisa menyekolahkan anak, membayar kontrakan, bahkan memberikan tempat tinggal untuk pekerjanya. “Keuntungan bukan untuk diri sendiri, tapi untuk berbagi sumber penghidupan,” katanya.
Bakso, Pangkas Rambut, dan Tray Stainless Steel
Bakso seafood jadi usaha yang paling stabil dan menyenangkan bagi Bang Azhary. Di pabrik baksonya, seringkali diadakan kumpul bareng karyawan bukan hanya untuk diskusi terkait pekerjaan, tapi juga mempererat kebersamaan seperti keluarga. Selain itu, Bang Azhary juga punya usaha pangkas rambut dan kontrakan. Tapi yang paling menantang baginya adalah usaha tray stainless steel, kotak makan siang yang digunakan untuk mendukung program makan bergizi gratis. Tantangannya banyak mulai dari pengiriman terhambat, stok menumpuk, hingga masalah logistik lainnya tapi ia belajar bahwa menghadapi kesulitan perlu doa, komunikasi hangat, dan ikatan emosional. Nilai-nilai dan KKI (Komunikasi, Koordinasi, Interaksi) dari Yayasan Wadah benar-benar menjadi panduan dalam setiap langkahnya.
Didukung Keluarga dan Koperasi Wadah
Bang Azhary tidak sendiri. Ia selalu mendapat dukungan dari keluarga, Bu Anie, dan tentu saja Koperasi Konsumen Wadah Titian Harapan. Ketika butuh modal cepat untuk usaha pangkas rambut atau bahan baku bakso, koperasi hadir tepat waktu. “Kadang kita nggak butuh modal besar, tapi butuh yang cepat dan tepat,” ungkapnya. Usaha tray stainless steel pun dimulai berkat bantuan dari Bu Anie dan Koperasi Wadah. Kini usahanya telah melibatkan banyak orang yaitu Wahyu, Sam, Opan, Angga, dan tim lainnya. Ia tak sekadar menjual barang tapi juga mendampingi dapur-dapur agar bisa beroperasi, dari urusan administratif sampai mereka benar-benar berjalan. Beberapa pelanggan bahkan sampai menangis terharu karena merasa akhirnya ada yang benar-benar berpihak pada mereka.
Bisnis Bukan Sekadar Untung, Tapi Tanggung Jawab
Saat ditanya motivasinya menjual tray makan siang, Bang Azhary menjawab dengan mantap: “Karena saya bagian dari tim sukses presiden terpilih. Ada tanggung jawab moral di sana.” Ia sadar bahwa dari target 84 juta penerima manfaat program makan siang gratis, masih belum 10% yang tercapai. Peluang masih besar, tapi bagi Bang Azhary, ini bukan hanya soal angka. Ia lebih peduli pada seberapa besar kontribusi yang bisa diberikan untuk keberhasilan dapur-dapur itu.
Semua Bisa Usaha, Asal Tahu Potensinya
Menurut Bang Azhary, banyak orang merasa tidak bisa memulai usaha karena tak punya modal. Padahal bisnis bisa dijalankan dari banyak sisi, tidak harus produksi, bisa juga di distribusi, atau membangun jaringan. Ia sadar bahwa kekuatan dirinya ada di relasi. Maka itu yang ia gunakan untuk merangkul pemilik dapur, importir, dan membangun jaringan kebaikan.
Untuk Anak Muda dan Mereka yang Ingin Bangkit
Mayoritas orang yang bekerja dengannya adalah anak muda generasi milenial dan generasi Z. Ia percaya mereka punya potensi besar untuk maju dan berkembang bersama. Beberapa bahkan mulai berani membuka usaha sendiri setelah terinspirasi darinya. Bang Azhary sering mengajak anak muda ikut investasi kecil-kecilan. Ia juga punya prinsip hidup yang ia pegang teguh: “Tahu diri dan tahu batas. Kalau usaha sudah cukup untuk hidup dan keluarga, saatnya bantu orang lain. Jangan serakah.” Dan ketika ditanya soal kesulitan, ia menjawab dengan bijak: “Kesulitan itu cara Tuhan membangkitkan potensi kita. Bukan akhir segalanya.” Bang Azhary bukan hanya pengusaha, ia jembatan. Ia adalah bukti bahwa ketika pelayanan bertemu dengan keberanian, maka lahirlah usaha yang tak hanya untung, tapi juga memberi kehidupan.

Bapak/ibu yang penasaran dan berminat dengan produk Bang Azhary dapat melakukan pembelian ke Unit Usaha KKWTH ya. Berikut dokumentasi usaha bakso Bang Azhary.


Adapun dokumentasi usaha tray stainless steel dan usaha potong rambut dari Bang Azhary



Leave a Reply